Naskah Hikayat Isra’ Mi’raj dari Bali

Indonesia memiliki puluhan ribu naskah kuno Nusantara yang tersebar di berbagai daerah baik di dalam maupun di luar negeri. Di Indonesia sendiri, kita dapat memperolehnya di Perpustakaan Nasional, Daerah, Lembaga Adat, yayasan masyarakat, pondok pesantren, dan koleksi pribadi.

Koleksi tersebut belum semua terdigitalisasi, dan bahkan sebagian besar tidak terawat dengan baik. Tentunya dari banyaknya warisan leluhur yang sangat berharga itu, kita sebagai warga negara Indonesia harus ikut serta untuk menjaga, melestarikan, mempelajari, bahkan mengajarkan ilmu yang diwariskan oleh leluhur melalui naskah kuno yang ditulisnya.

Saya ingin membahas sebuah naskah yang berasal dari Bali yang ditulis oleh Ahmad Mahid. Naskah ini tergolong naskah muda yang usianya kurang lebih 23 tahun sejak 2002. Karena naskah ini tergolong muda, jadi tidak ditemukan kecacatan baik secara fisik maupun isi teksnya, semuanya masih jelas dan bisa dibaca. Naskah ini berjudul Hikayat Mi’raj yang dapat diakses secara online di laman berikut:

https://wanantara.blasemarang.web.id/index.php/wanantara/catalog/book/90

Naskah ini ditulis pada hari Senin tanggal 14 Januari 2002 atau 29 Dzulqo’dah 1422 di Kampung Islam Kecicang, Karangasem, Bali. Ciri khas naskah ini terdapat banyak iluminasi yang ada di awal, tengah, dan akhir. Iluminasi tersebut berbentuk seperti gambar masjid, daun, bingkai, kaligrafi basmalah yang dibentuk mirip angsa, ada kaligrafi Allah dan Muhammad juga.

Gambar 1. Iluminasi berbentuk masjid

Naskah ini ditulis menggunakan aksara Arab dan berbahasa Indonesia menggunakan tinta berwarna hitam, merah, dan sedikit warna hijau. Naskah ini terdiri dari dua bab, bab yang pertama yaitu Hikayat Mi’raj, dan bab kedua yaitu Hikayat Nur Muhammad setiap babnya itu berjumlah 52 halaman, diawali dengan iluminasi yang berbentuk masjid dan diakhiri iluminasi yang berbentuk bingkai yang dialamnya terdapat kaligrafi Allah dan Muhammad. Begitu juga di bab kedua. Naskah ini ditulis di kertas biasa yang panjang kertasnya 21 cm dan lebar kertasnya 16 cm. Setiap halaman terdapat 25 baris. Per barisnya berukuran 5 mm. Setiap halamannya terdapat penomoran halaman dibagian tengah atas, dan terdapat garis berbentuk bingkai berwarna merah yang mengelilingi kertas.

Pada sampul belakang terdapat kalimat basmalah yang ditulis besar secara vertikal, dan di halaman sampingnya terdapat kaligrafi basmalah yang ditulis mirip seekor angsa. Kemudian di halaman selanjutnya ada iluminasi yang ditulis besar hampir memenuhi satu halaman. Iluminasi tersebut berupa kaligrafi lafadz Allah yang ditulis di atas, di tengahnya ada tulisan Abdul Mahid, dan di bawahnya ada tulisan Muhammad Rasulullah SAW.

Gambar 2. Kaligrafi basmalah berbentuk angsa

Selanjutnya dibagian pembukanya ada pesan penting sang penulis untuk para pembaca yang isinya : “maaf bapak – bapak dan saudara – saudara karena pertama kali ini jika ada salah harap dimaafkan karena tidak pernah menulis baru kali ini saja mudah-mudahan para bapak – bapak dan dan saudara – saudara bisa memaklumi akan tetapi begitu pula cara membacanya jangan tangannya ber air karena selalu tintanya tidak baik, jika kena air hilanglah tulisannya tidak berupa tulisan ini dari itulah memperhatikan bapak – bapak dan saudara – saudara itulah perhatian saya. Wassalamualaikum warahamatullahi wabarakatuh. Mulai menulis bulan Januari hari senin tanggal 14 – 1 – 2002, diirngi Dzulqo’dah tanggal 17 – 1433 Hijriah selasa tanggal 9 – 3 – 2002 / 39 Dzulqo’dah 1433. Kampung Kecicang Islam Kaeang Asem Bali Timur. ‘Abdul Mahid bin Dulimah Alm. TTD.”

Pesan ini berarti bahwa siapapun yang ingin membacanya harus keadaan tangannya kering dan bersih agar tulisannya tidak luntur, dan penulis meminta maaf bila ada kekurangan karena baru pertama kali ini menulis buku.

Gambar 3. Pesan penulis di muqoddimahnya

Abdul Mahid menjelaskan bahwa ia menyusun kitab ini untuk memberikan manfaat kepada para pencari ilmu. Ia melihat bahwa banyak orang membutuhkan penjelasan yang mudah dipahami mengenai ajaran agama, sehingga ia terdorong untuk menuliskan karya ini sebagai bentuk pengabdian serta harapan agar menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Di Halaman pertama sebelum bab pertama ditulis terdapat Iluminasi berbentuk masjid yang didalamnya tertulis Q.S. Al- Isro ayat 1. Dan terdapat tulisan Allah, Muhammad, Jibril, Mikail, Abu Bakar, dan Umar untuk menghiasi iluminasi tersebut. Selanjutnya dibagian bab pertama, halaman ke 2, terdapat iluminasi berbentuk masjid dan tulisan Allah, Muhammad, Isrofil, Izroil, ‘Utsman, dan ‘ali. Kemudian memasuki Bab Pertama, penulis mulai menjelaskan pokok pembahasan yang menjadi inti dari kitab ini. Pada bagian awal bab, dijelaskan tentang dasar-dasar keagamaan yang harus diketahui oleh setiap muslim. Penulis menguraikan pentingnya memahami perkara agama secara jelas, baik menyangkut keyakinan, ibadah, maupun adab-adab yang seharusnya dilakukan. Bagian ini menjadi pembukaan menuju penjelasan yang lebih rinci pada halaman-halaman selanjutnya.

Gambar 4. Isi manuskrip

Bab kedua berjudul Hikayat Nur Muhammad dan Nabi Bercukur dan Nabi Wafat. Bab ini ditulis di hari Jum’at tanggal 24 Dzulhjjah 1433 H / 7 Maret 2002 M dan selesai pada hari Jum’at tanggal  8 Muharram 1433 H/ 22 Maret 2002 M. Dibawahnya bertuliskan 5 rukun Islam. Kemudian pada halaman pertama bab kedua ini terdapat iluminasi berbentuk masjid. Dalam beberapa bagian teks, penulis menyampaikan nasihat agar manusia tidak hanya terpaku pada urusan dunia, karena kehidupan dunia bersifat sementara. Yang lebih penting adalah menyiapkan bekal akhirat melalui amal saleh dan ilmu yang benar. Ia mengingatkan bahwa banyak orang tersesat karena lalai, sibuk mengejar kesenangan dunia, dan tidak memikirkan kehidupan setelah mati.

Di bagian akhir nasksh tertulis doa bercermin beserta artinya. Kemudian ada beberapa pertanyaan dan jawaban tentang rakaat solat, seperti : apa sebab magrib tiga rakaat? Karena subuh sudah menghapuskan dosa pada siang dan malam. Terus apa sebab dzhuhur itu empat rakaat? Karena Allah menilik kepada ‘anashir kejadian Adam yaitu air, api, angin, tanah. Karena di dalam insan itu empat musuhnya peratama hawa nafsu, dunia, syaitan yang empat itu ada  pada insan maka sebab itulah dijadikannya dzhuhur 4 rakaat. Dan masih ada beberapa pertanyaan dan jawaban yg lain. Naskah ini ditutup dengan kalimat basmalah yang ditulis vertikal di halaman paling akhir.

Oleh: Wardah Robikhah (Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang)

Kajian Manuskrip adalah laman hasil penelitian para mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir Angkatan 2023 (Semester 5) UIN Walisongo Semarang yang mengambil mata kuliah Studi Manuskrip Al-Qur’an dan Tafsir. Artikel dalam laman ini merupakan tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mahasiswa yang terpilih dan diunggah di laman nahdlatululama.uk setelah proses kurasi . (Dosen pengampu dan editor: Efri Arsyad Rizal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *