Kitab Asnal Miqosad Juz Tsani: Tafsir KH Rifai Kalisalak?

Asnal Miqosad adalah salah satu manuskrip koleksi dari wanantara yang dapat diakses melalui laman https://wanantara.blasemarang.web.id/index.php/wanantara yang terdiri dari juz pertama dan kedua. Keterangan dari laman tersebut menjelaskan bahwa kitab ini dikarang oleh K.H Ahmad Rifa’i yang berasal dari Desa Kalisalak, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. 

Kitab ini ditulis pada tahun 1261 H dan disimpan oleh PP Miftahul Ulum Kayen, Pati, Jawa Tengah. Naskah ini ditulis di kertas HVS, dengan kondisi fisik masih bisa terbaca walaupun dalam kondisi kusam dengan total berisi 306 halaman. Kitab ini ditulis dengan bahasa jawa menggunakan aksara pegon dan tulisan nya berwarna merah dan hitam, merah untuk ayat-ayat Al-Qur’an dan warna hitan untuk keterangan nya. Menurut keterangan, kitab ini selesai ditulis Senin 4 Syawal 1261 H. 

Kitab Asnal Miqosad menjelaskan tentang iman, islam dan ihsan. Selain itu, terdapat ayat-ayat Al-Qur’an baik satu ayat utuh maupun penggalan ayat saja, yang kemudian dijelaskan makna atau maksud dari ayat ayat tersebut. 

Hal 8.  Surat AT-Thalaq ayat 4

Pertama penjelasan tentang surat At-Thalaq ayat 4 “Ngendika Allah ta’ala ing dalem Qur’an, lan sopo wong wedi ing Allah pengeran, netepi wajib ngedohi ma’siyat, maka andadeaken Allah kinaweruhan, keduwe wong iku saking penggawene gampang, sebab tulung Allah kawilang, lumaku maring Allah padang lapang, netepi sah iman lan sembahyang, alim adil nemu gampang laku, iku lah pengendikane Allah dipikiro”. 

Kalimat tersebut menjelaskan bahwa Allah berfirman dalam Al-Qu’an bahwa siapa saja yang takut pada Allah, menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar kemudahan dan pertolongan. Orang tersebut akan dibuka kan ilmu dan pemahaman, dimudahkan urusan-urusan dalam hidup nya, dituntun menuju jalan yang terang dan lapang, iman dan ibadah semakin kuat dan menjadi pribadi yang adil dan berilmu sehingga mudah menjalani hidup yang benar. 

Hal 53.  Surah An-Nisa’ ayat 11

Kedua penjelasan tentang surat An-Nisa ayat 11”tan nana weruh siro kabeh ning atine, ing endi wong iku kabeh kekarepane, kang luweh perek keduwe siro kabeh anane, dadine manfaat wekas wekasane, balek Allah luwih ngudananikenyataan, ing sawiji wiji manfaat kinaweruhan, haq e kawulo bodoh rido ing pengeran, kang ginemu anane nyatane pengarepan, mukmin haq ridho paring Allah kang ono, iku ngelamete bekjo kan iku nana, iki lah quran maknane kaweruhan” .

Kalimat tersebut menjelaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah, bahkan isi hati, keinginan dan arah tujuan manusia semua diketahui oleh Allah. Seorang mukmin harus menyadari bahwa segala manfaat, keberhasilan dan kebaikan dalam hidup berasal dari Allah, bukan dari kemampuan dirinya sendiri.

Harus ridho kepada ketentuan Allah, baik yang diberikan maupun yang tidak diberikan. Pasrah dan berharap hanya pada Allah, Karena hanya Allah yang menentukan hasil dan manfaat dari setiap usaha manusia. Orang-orang yang beriman dengan benar dan ridho kepada Allah akan mendapat keselamatan, keberkahan dan kebaikan. 

Hal 70. Surah An-Naziat ayat 37-39

Ketiga penjelasan tentang surat An-Naziat ayat 37-39 ”maka anapun wong kelanjut kufur, nuruti ing hawane sasar pinilahur, lan milih ing kahuripan dunyo ngelantur, maka setuhune ing neroko jahim jegur, yaiku panggonane kekal urip madharat, roso panas banget tan bisa mecat, ikulah tinutur wong kafir laknat, anut hawane sengit ing syariat, lakune mukmin adil imane jujur, pangistone jazem asih syara’ pitutur, dhohir batin maring Allah melahur hawane di paringi nejo, iki lah Qur’an nutur wong maringi hawa.

Kalimat tersebut menjelaskan tentang perbedaan nasib orang yang kufur dan mengikuti hawa nafsu dengan nasib orang mukmin yang taat kepada Allah. Dalam bagian awal dijelaskan bahwa orang yang memilih kekufuran, mengikuti keinginan hawa nafsu, serta lebih mengejar kehidupan dunia tanpa peduli petunjuk agama, pada akhirnya akan tersesat dan menjadi penghuni neraka jahim. Neraka itu digambarkan sebagai tempat tinggal yang kekal, penuh panas dan penderitaan, yang menjadi balasan bagi orang yang membenci syariat dan menolak kebenaran.

Sementara itu, bagian berikutnya menjelaskan sifat orang mukmin yang benar, yaitu mereka yang beriman dengan jujur, berperilaku adil, menjalankan ajaran syariat dengan penuh ikhlas dan keyakinan, serta menjaga lahir dan batinnya menuju keridhaan Allah. Orang beriman menundukkan hawa nafsunya dan menjadikan ajaran agama sebagai pedoman hidup. Dengan demikian, kalimat ini ingin menegaskan pesan Al-Qur’an bahwa memilih jalan kufur dan hawa nafsu akan membawa pada kesengsaraan akhirat, sedangkan mengikuti iman, syariat, dan akhlak mulia akan membawa kepada keselamatan dan kemuliaan.

Hal 151. Surah Taha Ayat 131

Keempat penjelasan tentang surah Taha ayat 131”utawi rizqi pengerane suwargo luhur, iku luwih becik lan luwih langgeng tinutur, ugo luwih patut kinasih lan pinilahur, luwih haq dunyo tan lana/ leno iku kesingkur, ngambil arta lan mulyo sekedar hajat, ingkang sekiro dadi nulungi ing ibadah, netepi wajib tinggal saking ma’siyat, dhohir batin kelawan sekedar kuat, luwih haq suwargo ing ngupaya pinilala/ pinida olo, wajib mengo saking dunya harom olo”.

Kalimat tersebut menjelaskan bahwa rizki dari Allah di surga itu jauh lebih baik, lebih mulia, lebih kekal, lebih layak dicintai dan dikejar dibandingkan kenikmatan dunia. Harta dan kemuliaan dunia hanyalah sementara dan tidak patut dijadikan tujuan utama. Ambillah harta dunia sekadar untuk memenuhi kebutuhan yang bisa membantu dalam beribadah, menunaikan kewajiban, dan menjauhi maksiat itu pun sebatas kemampuan.

Yang utama dan lebih layak untuk diusahakan adalah rizki akhirat, sedangkan perkara dunia yang haram wajib dijauhi.Dari apa yang saya pelajari dalam manuskrip Asnal Miqosad Juz Tsani, terlihat jelas bahwa ajaran-ajaran yang disampaikan K.H. Ahmad Rifa’i masih sangat bermakna sampai sekarang.

Kita mungkin berpikir ada beberapa penjelasan ayat yang perlu ditelusuri lebih dalam. Namun, setidaknya empat pembahasan di atas menunjukkan bahwa seorang Kiai lokal memiliki pemikiran yang dapat dilihat melalui karyanya. Semoga tulisan singkat ini bisa membuat kita kembali menghargai warisan keislaman nusantara yang kadang terlupakan, dan mendorong kita untuk terus merawatnya dan menjaganya.

Oleh: Alda Hanan Cetta (Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, UIN Walisongo Semarang)

Kajian Manuskrip adalah laman hasil penelitian para mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir Angkatan 2023 (Semester 5) UIN Walisongo Semarang yang mengambil mata kuliah Studi Manuskrip Al-Qur’an dan Tafsir. Artikel dalam laman ini merupakan tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mahasiswa yang terpilih dan diunggah di laman nahdlatululama.uk setelah proses kurasi . (Dosen pengampu dan editor: Efri Arsyad Rizal)