Ramadhan 1445 H telah berlalu. Idul Fitri 1445 H pun demikian. Namun, Ramadhan di London tahun 2024 ini menjadi momen yang tak terlupakan bagi saya. Ini adalah kisah hikmah pengalmaan saya menjalani bulan puasa pertama kalinya di kota Istana Buckingham ini.
Kota ini memancarkan semangat Ramadhan melalui keberagaman masyarakat Muslimnya. Masjid-masjid yang senantiasa sesak ramai oleh kehadiran jamaah menjadi pemandangan yang dijumpai setiap harinya.
Walikota London, Sadiq Khan, turut memberikan dukungan dengan hiasan lampu sepanjang Oxford Street bertemakan Ramadan Kareem. Hiasan ini memberikan kesan mendalam bagi masyarakat Muslim dan memberikan pesan perdamaian dan persaudaraan kepada seluruh pengunjung kota.
Di masjid-masjid besar seperti London Central Mosque dan East London Mosque, suasana saat Bulan Ramadhan menjadi semakin meriah menjelang waktu maghrib. Ruang utama masjid seringkali dipenuhi oleh jamaah yang berbondong-bondong datang untuk menunaikan ibadah. Meskipun sesak, suasana di dalamnya tetap khidmat dan penuh kekhusyukan.
Buka Puasa Bersama
Salah satu kesempatan yang paling menarik adalah kegiatan berbuka puasa bersama. Hampir semua masjid di London menyelenggarakan acara ifthar dan makan malam gratis untuk jamaah dan masyarakat sekitar. Hal ini menjadi kesempatan yang berharga untuk beribadah sambil bersilaturahmi dan menikmati hidangan yang lezat.
Kegiatan perkuliahan, menjalani puasa, dan ibadah lainnya seperti tarawih menjadi rutinitas yang saling bersambung dilakukan setiap hari. Jika kelas berakhir sore, maka saya berbuka puasa dan tarawih di kampus bersama mahasiswa Muslim lainnya yang diadakan oleh UCL Islamic Society.
Jika kelas berakhir lebih awal, saya akan bertamasya Ramadhan dengan berbuka puasa dan tarawih di masjid-masjid yang ada di kota ini, mulai dari Muslim World League, London Central Mosque, East London Mosque, sampai West London Islamic Centre.
Setiap akhir pekan saya rutin mengikuti kegiatan buka bersama Pengajian Masyarakat Indonesia London (PMIL) pada hari Sabtu di KBRI dan Buka Bersama di Masjid Indonesian Islamic Centre (IIC), Neasden pada hari Ahad. Dua tempat ini mengobati rasa rindu momen Ramadhan di tanah air.
Selain itu, saya juga rutin mengunjungi Malaysian Hall yang juga memiliki kegiatan buka bersama hingga tarawih berjamaah. Bahkan, bagi saya pribadi, tidak jarang kegiatan di sini lebih mirip suasana di kampung halaman saya di Madura. Dimulai dengan tadarus bersama satu jam sebelum adzan maghrib, kultum tarawih, hingga tarawih dengan nida’ dari bilal. Hal ini semakin menambah rasa rindu untuk menikmati Ramadhan bersama keluarga di Indonesia.
Keragaman Muslim Dunia dan Persaudaraan
Bagi saya, nikmat yang paling terasa adalah menjalani Ramadhan di London itu sendiri. Begitu banyak ras manusia di kota ini. Bahkan dapat dibilang London adalah ibukota dunia karena hampir semua bangsa punya entitas di kota ini. London dan UK secara umum sangat ramah terhadap Muslim dibanding kota-kota di Barat lainnya. Sehingga pengalaman ini memberikan pengalaman penuh warna dan sangat berkesan.
Ada momen menarik saat saya menjalani i’tikaf di East London Mosque. Suatu ketika, saya dan teman saya dihampiri oleh seorang Muslim Sudanese. Ketika mengetahui kami berasal dari Indonesia, tiba-tiba ia bertanya, “Apa kabar?”
Dia bercerita pernah tiga tahun kuliah di Malaysia, sehingga dapat bertutur bahasa Indonesia atau Melayu. Kemudian beberapa temannya menghampiri kami pula. Seketika itu, kami sahur bersama dengan mereka yang terdiri dari enam orang Sudanese, satu Bangladeshi, dan kami berdua yang dari Indonesia.
Cerita menarik lainnya adalah saat saya dan tiga teman dari Indonesia melakukan tarawih di West London Islamic Centre. Saya yang hampir setiap hari memakai gamis dan peci hitam (kadang peci beludru khas Indonesia, kadang peci kain berlogo Makkah khas Malaysia) disapa oleh seorang kakek Arab.
Tiba-tiba beliau bertanya, “Kamu dari mana, Indonesia, Malaysia?” Ternyata beliau seorang Arab Indonesia keturunan Yaman, kelahiran Bandung 1966 yang pernah menetap di Jakarta. Namun 13 tahun lalu kakek tersebut memilih berpindah menjadi warga negara USA dan saat ini tinggal di London untuk berobat. Cerita-cerita tersebut mungkin akan jarang dijumpai di tempat dan suasana lain. Menikmati Ramadhan dengan bertemu Muslim dari belahan dunia di London ini menjadi pengalaman yang patut disyukuri dan bisa menyambung tali persaudaraan dengan orang-orang baru.
Tantangan
Bagi saya, tantangan terbesar menjalani Ramadhan di UK adalah pergeseran jam salat yang cukup signifikan. Saya sempat menghitung bahwa setiap harinya paling tidak waktu Maghrib mundur 2,5 menit sementara waktu Subuh maju 2,5 menit. Mundurnya waktu maghrib berakibat mundurnya waktu tarawih, yang tak jarang selesainya sampai jam 10 malam.
Bagi saya yang memiliki ganggunan tidur (insomnia), pergeseran waktu ini cukup menantang. Saya tidak dapat istirahat secara maksimal di malam hari sehingga siang dan sore harinya membuat stamina menurun.
Selain itu jumlah masjid di London tidak banyak dan jarak yang perlu ditempuh cukup jauh. Paling tidak untuk menuju ke masjid dari tempat saya tinggal, saya butuh setengah jam perjalanan. Sehingga saya harus sangat mengatur waktu dan seringnya saya tiba di rumah saat larut malam setelah Solat Tarawih.
Hikmah
Menjalani Ramadhan di London memberikan saya dua hikmah besar. Pertama, kita harus bersyukur atas kesempatan yang telah Allah berikan sehingga dapat mengenal dan menjelajahi sudut bumi yang lain, yang jauh dan sangat berbeda dari tempat asal di tanah air Indonesia.
Kedua, kita harus bersyukur karena Allah menakdirkan saya lahir, tumbuh, dan menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Begitu banyak nikmat Allah yang saya dapatkan dengan menjadi Muslim di Indonesia, dimana kita bisa menjalani kehidupan ber-Islam dengan sebaik-baiknya tanpa kendala apapun.
Bagi saya, budaya Indonesia memiliki keunggulan dari sisi ramah-tamah dan toleransinya jika dibandingkan dengan masyarakat Muslim dari bangsa lain. Untuk itu, karunia Allah tersebut perlu terus disyukuri dengan menjadi umat Muslim yang selalu menampakkan Islam rahmatan lil ‘alamin, baik dari tindakan, ucapan, pikiran, dan perasaan. (*)
Fajrun Wahidil Muharram, Mahasiswa Master Social & Geographic Data Science di University College London

Cerita Hikmah Ramadhan adalah Kumpulan kisah sederhana dan reflektif dari para diaspora dan mahasiswa Indonesia khususnya di UK. Kisah-kisah ini dikumpulkan dan disunting oleh Efri Arsyad Rizal dari Birmingham UK dan Rosyid Jazuli dari London, UK.




