Hikmah Ramadhan dari Exeter: Ketahanan, Refleksi Diri, dan Kekuatan Iman

Selama Bulan Ramadhan, tidak banyak kegiatan yang bersifat publik di Exeter, UK ini. Hal ini menjadi wajar karena Muslim bersifat minoritas di kota kecil Exeter ini. Namun ada beberapa hal yang ingin saya bagikan.

Buka di masjid

Di sini, saya mendapat banyak ucapan selamat Ramadan Kareem dari teman-teman dan dosen di kampus. Beberapa kali institut saya mengadakan buka bersama mengundang semua elemen baik mahasiswa, dosen dan staff, dan gratis. Minggu lalu bahkan buka bersama di restoran bersama teman-teman kelas yang agamanya berbeda-beda, dan mereka rela menunggu adzan maghrib untuk makan.

Pada Bulan Ramadhan ini, di kampus  lebih sering diadakan seminar tentang Keislaman dan Ketimur-tengahan, dibandingkan bulan-bulan lainnya. Tentu hal yang sangat dinanti-nanti adalah adanya buka bersama gratis di masjid Exeter yang terbuka untuk semua kalangan setiap hari.

Dalam sisi ibadah, Solat Tarawih di sini setiap hari menyelesaikan satu juz dan sebanyak 23 rakaat dari jam 8-11 malam, termasuk ada kloter kedua setelahnya. Dii masjid inilah akhirnya menjadi lebih sering bertemu, berinteraksi dan berhubungan dengan sesama warga Exeter

Keseimbangan

Ramadan di Exeter membawa ritme kehidupan sehari-hari yang berbeda, terutama bagi saya, yang berusaha menyeimbangkan antara tuntutan akademik dan komitmen spiritual.

Hari-hari selama bulan suci ini diisi dengan rutinitas yang lumayan ketat namun penuh makna, mengajarkan pentingnya disiplin, kesabaran, dan keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Kuliah berlangsung seperti biasa dan begitu kelas berakhir, saya bergegas menuju Masjid Exeter. Aktifitas inilah yang menjadi hal yang saya nantikan setiap hari.

Di masjid, saya menghabiskan waktu menunggu waktu berbuka dengan niat i’tikaf dan tadarus Al-Qur’an. Momen ini menjadi kesempatan berharga untuk merenung dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, menjauhkan diri dari kesibukan duniawi dan menyerap kedamaian spiritual.

Waktu berbuka puasa tiba, bersama jamaah masjid lainnya, kami berbuka serta berbagi kehangatan dan kebersamaan hingga menjelang waktu Sholat Isya’.

Meskipun tidak selalu bisa mengikuti Sholat Isya dan Tarawih karena jarak masjid yang cukup jauh dari tempat tinggal, saya selalu berusaha untuk hadir dan berpartisipasi semaksimal mungkin. Momen ini menjadi bagian dari perjuangan spiritual saya selama Ramadan.

Setelah berbuka dan Tarawih, saya pulang ke tempat tinggal untuk rehat sejenak. Malam hari menjadi waktu saya untuk menyelesaikan tugas-tugas akademik yang tersisa. Bekerja hingga menjelang waktu sahur dan memanfaatkan setiap saat dengan efektif.

Ketahanan

Saat sahur, saya menyiapkan sajian sederhana yang saya masak sendiri. Setelah sahur, saya melaksanakan sholat subuh, lalu dilanjut dengan tadarus Al-Qur’an. Sekitar jam 7 pagi, saya menyempatkan tidur untuk memulihkan energi hingga waktu kuliah tiba.

Siklus seperti ini mengajarkan saya bukan sekadar rutinitas, tapi juga mengajarkan tentang ketahanan, refleksi diri, dan kekuatan iman.

Selain itu, hal yang menjadi pelajaran bagi diri saya selama Bulan Ramadhan ini adalah Intensitas dalam beribadah meningkat karena lebih sering ke masjid dan mengingat bahwa bulan ini adalah waktunya untuk berburu pahala. Saya menjadi lebih akrab dengan sesama Muslim di Exeter.

Dan tentu berkahnya saya tidak kebingungan apa yang harus saya masak setiap harinya untuk berbuka karena ada buka bersama di masjid. Sehingga, pengeluaran juga berkurang karena jarang belanja kebutuhan pangan.

Penyesuaian

Alhamdulullah, tidak ada tantangan yang berarti selama saya menjalankan Ibadah Bulan Ramadan di Exeter ini. Mungkin saya hanya merasa bahwa kebiasaan berpuasa yang mungkin sebelumnya terasa lebih mudah dijalani di tengah keluarga dan komunitas yang homogen, kini menjadi sebuah proses pembelajaran dan penyesuaian diri.

Dikelilingi oleh teman-teman dan dosen dari berbagai latar belakang kepercayaan dan budaya membuat saya belajar untuk lebih menghargai esensi dari kesabaran yang tidak hanya dalam konteks menahan diri dari makan dan minum saja, tetapi juga dalam berinteraksi dan menjalin hubungan harmonis dengan orang-orang di sekitar saya.

Tantangan justru datang dari faktor eksternal, yaitu teringat momen-momen Ramadan di tanah air. Hiruk-pikuk di Exeter tentu sangat jauh berbeda dengan di Indonesia, tidak ada Tadarus Al-Qur’an yang saling bersahutan, tidak ada ngaji “pasaran”, tidak ada orang berbondong-bondong berburu takjil, tidak ada suara ramai orang-orang membangunkan sahur. Hal tersebut yang membuat saya rindu dan selalu merasa ada yang hilang dan kurang.

Transformasi

Ramadan di Exeter telah mengajarkan kepada saya bahwa bulan suci ini melampaui sekedar ibadah ritual pribadi: ia adalah waktu untuk membangun jembatan persaudaraan dan memperkuat tali persatuan.

Tidak hanya di antara sesama umat Muslim tetapi juga dengan komunitas yang lebih luas. Ini adalah pengalaman yang menginspirasi pribadi, mencerminkan kekuatan iman, toleransi, dan kebersamaan dalam keragaman.

Ramadan di Exeter, dengan semua tantangan dan keindahannya, juga telah menjadi sebuah perjalanan transformasi, memperkaya pengalaman hidup saya sebagai mahasiswa dan sebagai umat Muslim yang berusaha untuk tetap bertanggung jawab terhadap tuntutan akademik dan komitmen spiritual.

Muhammad Khowarizmi, Mahasiswa Master of Arts in Islamic Studies di University of Exeter

Muhammad Khowarizmi

Cerita Hikmah Ramadhan adalah Kumpulan kisah sederhana dan reflektif dari para diaspora dan mahasiswa Indonesia khususnya di UK. Kisah-kisah ini dikumpulkan dan disunting oleh Efri Arsyad Rizal dari Birmingham UK dan Rosyid Jazuli dari London, UK.