Akhir-akhir ini, kita disuguhkan dengan berita-berita yang menyayat hati sekaligus membuat penasaran dan bertanya-tanya kenapa ini terus terjadi. Berdasarkan survey PEW Research Center, “The Global God Divide” 2020, Indonesia adalah negara paling religious di dunia dengan angka 96 persen. Di sisi lain, berdasarkan laporan DroneEmprit 2023, Indonesia juga menempati juara 1 negara dengan pemain judi online terbanyak di dunia.
Belum lagi, pemberitaan mengenai korupsi yang nyaris tiada hentinya. Korupsi dari mulai pejabat kelas kakap sampai pejabat kelas teri, dari mulai Kementerian atau Lembaga sampai tingkat desa. Terbaru, kasus korupsi juga tidak luput di salah satu perusahaan BUMN yang sedang gencar melakukan transformasi dan menggaungkan slogan ‘AKHLAK’.
Selain sebagai negara paling religious, Indonesia juga dijuluki sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, meskipun data terbaru menunjukkan perubahan menjadi kedua terbesar di dunia. Lalu yang menjadi kegundahan banyak orang adalah bukankah ajaran agama itu mengajarkan dan mengarahkan manusia untuk menjunjung tinggi kejujuran, integritas, dan melarang untuk berjudi?
Jawabannya, jelas iya. Semua ajaran agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan mengarahkan manusia untuk menjadi manusia yang berakhlak baik, bermoral, dan berperadaban, termasuk agama Islam yang sangat detail memberikan panduan bagi pengikutnya. Namun, itu semua tidak berarti apa-apa kalau hanya dijadikan slogan semata. Mengklaim sebagai umat agama tertentu namun tidak mengamalkan ajarannya dengan baik atau bahkan tidak mengetahui panduan agamanya dengan baik.
Istilah yang digunakan untuk menyebut penganut agama seperti ini, kalau di Eropa dinisbatkan kepada penganut agama Kristen dengan sebutan ‘a nominal Christian’. Berarti, kalau digunakan untuk penganut agama Islam menjadi ‘a nominal Muslim’ atau bahasa kitanya ‘Islam KTP’. Mungkin, Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim berdasarkan identitas KTP-nya atau klaim pengakuan individu tersebut yang mungkin tidak paham apa dan bagaimana menjadi Muslim yang sesuai ajaran Islam.
Kita perlu merefleksikan kembali mengenai peran kita sebagai umat beragama. Apakah identitas kita sebagai umat beragama itu hanya sebagai simbol saja karena tuntutan harus adanya identitas keagamaan di KTP? Atau identitas itu memotivasi kita untuk mengikuti apa yang diharapkan oleh agama yang kita klaim? Dan apakah kita malu ketika identitas agama kita “A” tetapi perilaku kita tidak mencerminkan apa yang kita klaim?
Idealnya, identitas agama kita tercermin dari perilaku kita yang sesuai dengan ajaran agama. Namun, apa yang terjadi ketika agama hanya dijadikan sebagai simbol dan jargon saja? Beragama itu mengikuti aturan ‘main’ yang diberikan oleh agama itu sendiri. Jangan-jangan agama hanya dijadikan sebagai alat untuk mengobati anxiety dan tekanan hidup? Atau dijadikan alat oleh penguasa untuk kepentingan mereka? Kalau iya, itu mengonfirmasi apaya yang disampaikan Marx bahwa agama adalah “the opium of the people” (agama sebagai candu rakyat).
Terlepas dari kelemahan analysis Marx terkait agama dan banyaknya kritik terkait padangan ini, perlu kiranya kita sebagai umat beragama atau lebih spesifiknya sebagai aktivis dakwah agama untuk merenungi dan mengevaluasi terkait dengan apa yang sedang terjadi dengan fenomena kebergamaan kita ini. Kita perlu merenungi apa yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Abduh bahwa ‘kemuliaan Islam tertutupi oleh perilaku umatnya sendiri’.
Evaluasi dan refleksi perlu terus dilakukan dari kita masing-masing, para aktivis dakwah dan juga organisasi keagamaan. Apa yang harus diperbaiki dalam pola kita mendakwahkan ajaran Islam supaya perilaku umatnya sesuai dengan kemuliaan Islam? Apakah arah dakwah kita masih berfokus pada ritualistik dan kurang mengartikulasikan ritual dan simbol-simbol itu?
Transformasi sosial dalam misi profetik
Misi utama Rasulullah Saw diutus kemuka bumi ini adalah untuk menyempurnakan akhlak. “Innama bu’istu liutammima makarimal akhlaq” yang artinya, sesunggunhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. Rasulullah telah berhasil melakukan transformasi sosial yang sangat dahsyat pada saat itu dan dirasakan sampai saat ini, yaitu merubah masyarakat dari jahiliyyah menjadi manusia yang berperadaban.
Namun, misi profetik ini tidak akan terasa dan berlanjut kalau kita tidak terus melanjutkan perjuangan perubahan sosial yang telah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Misi profetik ini harus menjadi misi kita semua sebagai Muslim, misi pendakwah, misi pendidik, misi pengusaha, misi pekerja dan misi pemimpin. Setiap Muslim harus terus berusaha menyempurnakan akhlaknya sehingga menjadi manusia yang berakhlakul karimah (akhlak yang terpuji) di mata Allah.
Untuk memiliki akhlak yang terpuji di Mata Allah, tentu kita harus mengikuti panduan yang Allah berikan untuk mengatur kehidupan kita di dunia melalui Al Qur’an dan sunnah Nabi. Al Qur’an dan sunnah Nabi sebagai ajaran Islam memandu dan mengatur secara lengkap terkait semua aspek kehidupan manusia dari bangun tidur sampai tidur kembali, dari manusia lahir sampai masuk ke liang lahat. Misi agama untuk menjadikan manusia berakhlakul karimah yang pada akhirnya buah dari akhlak karimah tersebut adalah ridlonya Allah dan tentunya kita memperoleh falah, kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Panduan agama untuk menjadi manusia yang berakhlakul karimah sudah sangat lengkap. Lalu, pertanyaannya adalah sudahkah kita memahami semua panduan yang Allah berikan tersebut? Islam sudah sangat jelas mewajibkan umatnya untuk mempelajari panduannya ini. Namun, jangan-jangan banyak diantara kita merasa sudah cukup dengan hanya tahu sebagian kecil; bisa membaca Al Qur’an meskipun tidak memahami artinya, bisa shalat meskipun tidak memahami dan menghayati apa yang dibaca dan dilakukannya?
Setelah kita yakin dengan kebenaran ajaran agama Islam (believing), lalu mengetahui panduan yang Allah berikan (knowing), berikutnya adalah berperilaku sesuai ajaran agama (behaving). Sudahkah kita mengamalkan semua panduan tersebut? Atau, jangan-jangan kita hanya mengetahui sebagian kecilnya atau hanya menggunakannya sebagai slogan semata? Atau kita sudah sangat mafhum tapi sulit atau enggan untuk istiqomah menjalankan semua panduan yang Islam berikan? Pertanyan refleksi ini terntu saja hanya diri kita senidiri yang bisa menjawab dan mengukurnya.
Untuk orang yang sudah paham ilmu agama, tantangannya adalah berjuang memerangi hawa nafsunya. Ini jihad yang sesungguhnya melawan hawa nafsu kita sendiri. Tentu, kita mafhum bahwa ini sangat berat. Salah satu caranya adalah, seperti yang disampaikan oleh para ulama, berkumpul dengan orang-orang soleh atau sederhananya berkumpul dengan orang-orang yang memiliki misi yang sama, yaitu ingin menjadi manusia yang berakhlakul karimah.
Caranya mungkin kita bisa ikut bersama-sama dan terlibat dengan komunitas atau jami’yyah seperti ikut bergabung dengan Nahdlatul Ulama, organisasi Islam lainnya atau komunitas-komunitas majelis taklim lainnya. Namun, bergabung dengan organisasi keagamaan tidak menjamin kita menjadi lebih baik. Apalagi kalau organisasi keagamaan tidak secara berkelanjutan mengevaluasi gerakan dakwahnya dan melakukan perbaikan berkelanjutan dalam melakukan misi dakwahnya.
Ketika organisasi-organisasi keagaman merasa di zona nyaman dan merasa semuanya berjalan seperti biasa saja, ini menjadi tantangan fenomena sosial umat beragama. Perlu kiranya bagi para aktivis dakwah dan aktivis organisasi keagamaan untuk terus mengevaluasi dan merefleksikan gerakannya secara rutin dan berkelanjutan. Jangan malah sibuk dengan urusan ‘politik’ organisasi yang tidak ada bedanya dengan organisasi non-keagamaan, sibuk dengan dinamika konflik mengenai jabatan di organisasinya dan sibuk memanfaatkan organisasi agama untuk kepentingan pribadinya.
Tentu, masih banyak aktivis dakwah dan aktivis organisasi keagamaan yang masih tidak menyibukkan dengan hal-hal yang tidak produktif tadi. Namun, perlunya kesadaran bersama dan rasa pentingnya untuk melakukan perubahan dan perbaikan di organisasi harus terus dibangun.
Refleksi yang harus terus dilakukan untuk melakukan inovasi dan perubahan sosial adalah apa yang harus diperbaiki dan apa yang harus dirubah? Bagaimana selama ini kita mendakwahkan ajaran agama? Ini menjadi teka-teki yang terus kita harus pecahkan. Evaluasi harus senantiasa dilakukan dan berkelanjutan. Dulu untuk meningkatkan kualitas para penceramah dan aktivis dakwah ramai terkait dengan standarisasi penceramah. Namun, jangan sampai hanya sebagai formalitas saja, yang dibutuhkan adalah aksi nyata dan inovasi dalam berdakwah.
Dari mana harus memulai perubahan? Bisakah organisasi Islam melakukan transformasi dan inovasi dalam dakwahnya? Atau memang kita harus tetap berteguh pada tradisi yang sudah nyaman biasa kita lakukan tanpa adanya perubahan? Namun, jika kita terus memelihara tradisi tanpa mau melakukan perubahan, pada akhirnya akan susah melakukan perbaikan dan bahkan akan dirasakan wujuduhu kaadamihi, keberadaannya seperti ketiadaannya .
Padahal, dalam berbagai kesempatan, kita jamaah NU khususnya memegang prinsip almuhafadzotu qodimu solih wal akdu biljadidil aslah yang artinya, memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik. Lalu, bagaimana mengambil yang baik dari tradisionalitas dan tetap mencari dan menemukan kebaikan dari hal-hal baru atau modern ini? Sudahkah terus dilakukan secara berkelanjutan di organisasi keagamaan kita atau lagi-lagi ini hanya sebatas ‘slogan’ saja? Ini perlu refleksi berjamaah dan membangun sense of urgency untuk melakukan perubahan secara berjamaah pula.
Pada dasarnya, segala ritual dan slogan tak akan berarti tanpa implementasi. Nilai-nilai agama khususnya ajaran-ajaran mulia dalam Islam harus senantiasa kita laksanakan. Kita meyakini bahwa setiap amal ada pahalanya, setiap keburukan ada balasannya. Jangan berhenti hanya sebatas mengklaim sebagai umat bergagama. Perlu terus berusaha mencari tahu dan memahami panduan yang Allah berikan. Lalu, berusaha terus mengamalkan apa yang sudah kita pahami dan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki misi profetik yang sama.
Jangan berhenti hanya menjadi manusia yang ‘soleh sendiri’. Perlu kiranya kita membangun ‘kesalehan komunal’ dengan aktif berdakwah dengan cara yang terbaik yang bisa kita lakukan. Setelah aktif menjadi pendakwah, jangan berpuas diri dengan apa yang sudah dilakukan. Perlu kita terus melakukan perbaikan dan perubahan untuk menajalankan misi profetik, menjadi manusia yang berakhlakul karimah secara bersama-sama. Mengubah pernyataanya Syaikh Muhammad Abduh ‘kemulian Islam tertutup oleh Muslim’, menjadi ‘Muslim Indonesia mencerminkan kemuliaan Islam’ dengan akhlak karimahnya.
Wallahu a’lam
Wahyu Saripudin, Mahasiswa PhD di University of Exeter, Wakil Ketua PCINU United Kingdom




