Refleksi Satu Abad Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama (NU) telah berdiri sejak 31 Januari 1926. NU lahir tidak untuk mengejar kekuasaan, apalagi jabatan politik. Sejak awal, NU diletakkan sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan) yang berperan menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, merawat tradisi Islam Nusantara, dan membela kepentingan umat.

Satu abad NU menjelma menjadi organisasi Islam terbesar di dunia. Jaringannya luas, pengaruhnya besar dan menjadikan namanya melekat kuat dalam sejarah bangsa Indonesia. Resolusi jihad menjadi salah satu dokumen sejarah bagaimana peran ulama dan NU dalam mempertahankan bagaimana NU mencintai bangsanya.

Namun, usia satu abad juga menghadirkan tanggung jawab besar. Banyak godaan menghampiri. Di tengah situasi ini, NU butuh keberanian untuk bercermin dan mengajukan pertanyaan mendasar,

“Masihkah NU setia pada khittah-nya, atau justru semakin larut dalam pusaran kekuasaan dan kepentingan pragmatis?”

Khittah yang Diuji

Khittah NU 1926 yang ditegaskan kembali pada Muktamar Situbondo 1984, menempatkan NU sebagai kekuatan moral, bukan alat politik praktis. NU tidak terlibat dalam kontestasi politik. Namun, NU boleh dekat dengan siapa saja, tetapi tidak boleh dimiliki oleh siapapun. Prinsip ini dimaksudkan agar NU tetap menjadi penyeimbang, penuntun, dan pengayom umat. Meski demikian, posisi tersebut sering dianggap ambigu bagi kebanyakan orang.

Akibatnya, banyak kader, bahkan pengurus inti NU, aktif menjadi tim sukses, sibuk dalam kontestasi politik, dan berlomba mengejar jabatan publik. Secara individu, keterlibatan politik adalah hak konstitusional. Tetapi ketika struktur, simbol, dan otoritas NU ikut terseret, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar posisi, melainkan marwah organisasi. Ini yang sedang terjadi di tubuh NU.

NU berisiko kehilangan jarak kritis terhadap kekuasaan. Ketika ulama dan pengurus lebih sibuk mengamankan posisi politik, siapa yang menjaga umat dari dampak kebijakan yang tidak adil? Kita semua selayaknya perlu ber-muhasabah.

Aset Besar, Pengelolaan Lemah

NU memiliki aset yang sangat besar: tanah wakaf, gedung, pesantren, sekolah, madrasah, rumah sakit, hingga lembaga sosial. Sayangnya, kekayaan ini sering tidak diimbangi dengan manajemen yang profesional dan transparan. Banyak aset NU tidak terdokumentasi dengan baik, bermasalah secara legal, atau tidak produktif.

Organisasi sebesar NU tidak bisa lagi mengandalkan pengelolaan berbasis kepercayaan semata. Tanpa sistem manajemen aset yang modern, potensi besar ini justru bisa menjadi sumber konflik internal dan kerugian umat.

Kaderisasi yang Tidak Terencana

NU dikenal sebagai “gudang kader”, tetapi ironi muncul ketika sistem kaderisasi tidak berjalan secara terstruktur. Regenerasi sering kali berlangsung alamiah, bahkan sporadis. Akibatnya, yang tampil ke depan bukan selalu yang paling siap secara kapasitas dan integritas, melainkan yang paling kuat secara finansial dan jaringan politik.

Jika NU ingin bertahan sebagai organisasi besar yang bermartabat, manajemen kader harus menjadi prioritas: mulai dari pemetaan potensi, pendidikan kepemimpinan, hingga penempatan kader berbasis kompetensi, bukan kedekatan atau modal.

Elit Menguat, Umat Melemah

Fenomena lain yang patut dicatat adalah menguatnya peran elite ekonomi dan politik dalam struktur NU. Di satu sisi, ini bisa menjadi kekuatan strategis. Namun di sisi lain, ada resiko NU semakin menjauhi grass root: petani, buruh, nelayan, dan masyarakat kecil yang selama ini menjadi basis utama gerakan NU.

NU besar karena umat, bukan karena elite. Jika NU gagal memberdayakan umatnya secara nyata melalui pendidikan, ekonomi kerakyatan, dan advokasi sosial, maka NU hanya akan menjadi organisasi simbolik yang kehilangan ruh perjuangan.

Ketergantungan yang Menggerus Kemandirian

Sebagai organisasi besar, NU membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit. Namun ketergantungan pada “pemberian”, baik dari penguasa maupun pemodal, menyimpan bahaya laten. Ketergantungan ekonomi berpotensi melemahkan keberanian bersikap kritis dan independensi NU.

NU perlu membangun kemandirian ekonomi melalui pengelolaan aset produktif, wakaf, koperasi, dan badan usaha berbasis jamaah. Organisasi yang mandiri secara ekonomi akan lebih merdeka dalam menjaga prinsip dan membela umat.

Dakwah yang Tertinggal di Ruang Digital

Di era digital, dakwah tidak lagi cukup dilakukan di mimbar masjid dan majelis taklim. Media sosial dan ruang digital telah menjadi medan utama pertarungan gagasan keislaman. Sayangnya, dakwah NU di dunia maya masih sering kalah cepat, kalah rapi, dan kalah masif dibanding kelompok lain.

Tanpa manajemen dakwah digital yang serius, NU berisiko kehilangan generasi muda dan membiarkan ruang publik dikuasai oleh narasi ekstrem dan simplistik. Dakwah digital NU harus terencana, kreatif, dan inovatif.

Konsistensi khittah

Posisi NU sebagai kontrol sosial menjadi Tantangan terbesar NU di usia satu abad ini bukanlah soal jumlah jamaah atau besarnya nama, melainkan konsistensi terhadap khittah. Khittah NU tidak boleh berhenti sebagai dokumen sejarah atau jargon peringatan harlah. Ia harus hidup dalam sikap organisasi, kebijakan struktural, dan keteladanan para pemimpinnya. Bukan dengan bangganya mengatakan “saat ini hubungan NU dengan Bupati dekat sekali” seperti yang pernah disampaikan oleh GusDur dalam muktamar ke-30.

Penutup

Satu abad NU seharusnya menjadi momentum muhasabah kolektif. NU tidak kekurangan sejarah besar, NU tidak kekurangan kader, NU tidak kekurangan gagasan, NU tidak kekurangan militansi namun perlu ada inovasi yang signifikan agar bisa bersimfoni dalam irama yang sama.

Masa depan NU ditentukan oleh kebersamaan, konsistensi dan keberanian untuk menata ulang arah perjuangan hari ini. Jika NU mampu kembali menegakkan khittah secara konsisten dengan menguatkan kemandirian ekonomi, memperbaiki kaderisasi, dan sungguh-sungguh memberdayakan umat, serta bagian solutif maka NU akan tetap menjadi rumah besar Islam Nusantara bukan hanya besar secara jumlah, tetapi juga agung secara moral dan mulia dalam sejarah.

Sebagai warga Nahdliyin, kita punya tugas individu yang berat. Semua elemen perlu memastikan bahwa generasi selanjutnya dapat mengenal dan memahami NU secara benar. Nahdlatul Ulama adalah organisasi dakwah dan di dalamnya ada semangat untuk menuju kebaikan. Dan ketika semua itu tercapai, di saat itulah organisasi keagamaan besar ini akan kembali ke-khittah-nya. Sekian.