Hikmah Ramadhan dari Manchester: Makna dalam Perbedaan dan Pentingnya Manajemen Waktu

Tahun ini merupakan pengalaman pertama Ramadhan saya di UK dan mungkin satu-satunya juga. Studi magister di Inggris, umumnya hanya satu tahun. Sehingga, berpuasa di kota yang merupakan markas dua tim sepak bola besar, Manchester United dan Manchester City memberikan kesan tersendiri.

Ini adalah Cerita Hikmah Ramadhan saya, Muhammad Arinal Haq, atau akrab dipanggil Aril. Saat ini sedang studi di The University of Manchester mengambil jurusan MSc Pure Mathematics, sebuah bidang yang kedengerannya sangat rumit.

Kompak

Di Manchester, terutama di kampus, Ibadah Puasa saat Bulan Ramadan bukanlah hal yang asing. Kampus saya dalam menyambut bulan istimewa ini membuatkan Ramadan Guidance, semacam buku panduan untuk staff dan mahasiswa.

Departemen setiap hari menyediakan kurma dan air mineral dan Islamic Society mengadakan Buka Puasa termasuk kegiatan pendampingnya seperti Tafsr Circle, Quran Circle dan beberapa kajian lainnya. Komunitas-komunitas muslim disini sangat kompak dan sangat well-prepared dalam momen Ramadan.

Contohnya, Manchester Central Mosque selain mengadakan open iftar setiap harinya, juga mengadakan event spesial seperti, Kids Iftari yang terbuka bagi siapa saja termasuk kepada non-muslim maupun yang tidak beragama.

Satu hal lagi yang unik di Manchester adalah di daerah Rusholme dipenuhi komunitas Muslim Arab serta berbagai restoran timur tengah dan toko-toko Arab. Sehingga wilayah tersebut membuat vibes  Ramadhan di Manchester semakin terasa.

Dari Keluarga Islam Manchester (Karisma) sendiri juga terdapat banyak kegiatan untuk meramaikan Ramadhan, seperti Tilawah Rutin, Buka Bersama, Lomba Resep dan Kuis Ramadan Harian serta Safari Masjid dan I’tikaf Bersama.

Perbedaan

Bagi saya, selalu ada kesan pertama dalam setiap hal yang saya alami. Begitu pula dengan pengalaman menjalankan Ibadah Puasa di Manchester ini. Satu kata yang terlintas di benak kepala adalah “Perbedaan”. Ya, banyak sekali perbedaan yang saya alami dibandingkan pengalaman-pengalaman puasa sebelumnya.

Tanpa iklan marjan, tanpa war takjil, tanpa sahutan “tong tek” dini hari saat momen sahur, dan beragam hal yang dulu biasa ditemui di Indonesia.

Setiap sore saya sering mengikuti Tilawah Ramadan yang diselenggarakan Keluarga Islam Manchester (Karisma), dilanjutkan dengan beranjak ke masjid untuk buka bersama dan Sholat Maghrib hingga Sholat Tarawih. Selain itu, juga menyempatkan untuk tadarus di sela-sela jeda aktivitas dan memasak untuk persiapan sahur setelah tarawih.

Aktifitas yang tidak kalah serunya adalah berbelanja dan berburu bahan makanan halal di sini. Beberapa kali juga membeli masakan dan jajanan khas Indonesia, seperti Mendoan, Ayam Geprek, Lumpia dan aneka masakannya untuk sedikit mengobati rindu kampung halaman.

Yang tak kalah penting, saya selalu menyempatkan untuk berkabar dan video call dengan keluarga tercinta di rumah. Kadang juga buka bersama online, di Indonesia sudah waktu berbuka, di sini hanya melihatnya saja dengan memikirkan waktu berbuka masih sekitar 7 jam lagi.

Menulis menjadi aktifitas untuk berkarya di sela-sela aktifitas sehari-hari. Tidak jarang, tulisan tersebut menjadi konten di akun pribadi Instagram.

Kebersamaan dalam keberagaman

Nikmat Ramadhan yang berharga bagi saya adalah dapat merasakan kebersamaan dalam keberagaman dengan komunitas Muslim yang berasal dari berbagai latar belakang dan bisa menikmati hidangan berbuka yang berbeda dari sebelumnya.

Kebanyakan menu tiap harinya jika mengikuti buka bersama adalah “Nasi Biryani” atau “Nasi Mandi” dengan lauk tambahan ayam atau kari kambing dan juga “Naan” serta aneka menu asing lainnya. Meskipun belum bisa mengalahkan rempah-rempah dan nikmatnya makanan Nusantara, mencoba berbagai menu baru menjadi sebuah cerita yang menarik.

Tantangan ketika Ramadan di sini adalah manajemen waktu dan rutinitas yang harus benar-benar disesuaikan dengan jadwal kegiatan pribadi lainnya. Perbedaan waktu sholat setiap harinya sangat signifikan termasuk waktu berbukanya yang akhir-akhir ini pada jam 8 malam waktu Manchester.

Bahkan Solat Jamaah Tarawih 23 rokaat yang dimulai pukul 10 dan selesai pukul 12 malam. Selain aktifitas ibadah, saya harus mengerjakan project serta coursework yang deadline nya semakin dekat.

Pada akhirnya, beribadah di negara yang memiliki suhu dingin tentu menjadi ujian tersendiri. Saat berangkat tarawih, seringkali hujan dan juga angin yang cukup kencang. Durasi puasanya juga cukup lebih lama dibandingkan dengan di Indonesia.

Meski demikian, momen ini menjadi pengingat agar lebih bersyukur apapun kondisinya. Saya juga dapat melihat bagaimana solidaritas kaum muslimin dengan aneka perbedaannya yang mengingatkan indahnya Islam meski dengan madzhab yang berbeda. (*)

Muhammad Arinal Haq, MSc Pure Mathematics, The University of Manchester

Muhammad Arinal Haq

Cerita Hikmah Ramadhan adalah Kumpulan kisah sederhana dan reflektif dari para diaspora dan mahasiswa Indonesia khususnya di UK. Kisah-kisah ini dikumpulkan dan disunting oleh Efri Arsyad Rizal dari Birmingham UK dan Rosyid Jazuli dari London, UK.