Qadha dan qadar merupakan konsep penting dalam ajaran Islam yang berkaitan dengan takdir dan ketentuan Allah SWT terhadap alam semesta. Qadha mengacu pada keputusan atau ketetapan Allah SWT yang telah ditentukan, mencakup segala hal yang akan terjadi, baik besar maupun kecil. Sementara itu, qadar adalah perwujudan atau pelaksanaan dari ketetapan tersebut dalam realitas kehidupan manusia dan alam.
Sebagai seorang psikolog klinis dan pendidik, saya sering menemui keluhan-keluhan perasaan insecure yang muncul karena individu membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain, khususnya yang ditampilkan melalui media sosial. Unggahan apresiasi diri yang bagi pengunggahnya merupakan kebanggaan, acapkali menjadi bahan perbandingan bagi pengguna media sosial lain yang melihatnya di layar gawai mereka masing-masing.
Sebenarnya tidak ada yang salah dalam situasi ini karena tiap individu punya hak dan tanggung jawab atas perilakunya di media sosial. Namun demikian, tampaknya banyak Muslim yang lupa bahwa Muslim pantang berkecil hati ketika menghadapi tantangan kehidupan apalagi jika hanya mengacu pada tampilan duniawi karena Muslim (dan Mukmin) berpegang pada rukun iman, khususnya iman kepada Qadha dan Qadar-nya Allah.
Bulan lalu, dalam sebuah sesi telekonseling melalui platform Sahabat IPK Indonesia (2025), saya bertemu dengan seorang klien perempuan berusia 18 tahun yang tengah menghadapi masa transisi penuh tantangan. Lulus SMA di tahun 2024, ia memiliki mimpi untuk melanjutkan pendidikan di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Sayangnya, setelah dua kali mencoba, di tahun ini ia kembali tidak berhasil diterima di perguruan tinggi negeri impiannya tersebut, sehingga terpikir melanjutkan gap year, mempersiapkan diri tahun depan menjemput impian.
Namun, di sisi lain, ia menyadari bahwa kondisi ekonomi keluarganya terbatas, sehingga pertimbangan berkuliah di luar kota menjadi sangat membebani dengan biaya hidup yang membengkak. Selama gap year, ia ditugasi mengasuh keponakan yang terasa sangat melelahkan baginya. Di tengah keterbatasan itu, akhirnya ia memutuskan mendaftar di Universitas Terbuka (UT) yang proses pembelajarannya dilakukan secara daring.
Klien merasa minder melihat unggahan teman-teman di media sosial yang tampak bahagia dengan aktivitas perkuliahan mereka di kampus yang mentereng. Hal ini mencerminkan dampak nyata dari passive social media use terhadap kesehatan mental.
Ketika klien hanya mengamati tanpa berinteraksi, ia cenderung menyerap citra-citra ideal yang ditampilkan orang lain—yang sering kali telah dikurasi secara selektif untuk menampilkan versi terbaik dari kehidupan mereka. Dalam kondisi rentan, seperti kegagalan masuk perguruan tinggi negeri dan tekanan ekonomi keluarga, paparan terhadap narasi keberhasilan orang lain memperkuat perasaan tidak cukup, malu, atau tertinggal yang dirasakan klien saya. Ternyata tidak hanya tentang kontennya, ternyata media sosial menyumbang persepsi yang tidak berimbang terhadap diri sendiri, terutama jika konsumsi media sosial dilakukan dalam durasi panjang (Coyne et al., 2020).
Pengguna media sosial atau social networking sites yang terus-menerus membandingkan diri dengan citra ideal di media sosial dapat mengalami penurunan harga diri, kecemasan sosial, dan depresi (Alsunni & Latif, 2021; O’Day & Heimberg, 2021; Yao et al., 2023). Menggunakan pendekatan terapi naratif, saya mengajak klien untuk menyadari bahwa citra-citra tersebut tidak selalu mencerminkan kenyataan utuh, dan bahwa setiap orang memiliki tantangan yang tidak selalu terlihat dan sudut pandangnya masing-masing untuk melihat dunia (Ocampo-Rigor et al., 2022).
Dengan mengintegrasikan nilai spiritual seperti iman kepada Qadha dan Qadar, klien dapat membangun narasi bahwa jalan hidupnya adalah unik dan penuh potensi, meski berbeda dari orang lain. Ia juga didorong untuk menggunakan media sosial secara lebih aktif dan sadar—misalnya dengan mengikuti akun yang memberdayakan, membatasi waktu konsumsi pasif, dan berbagi pengalaman yang autentik—sehingga ruang digital menjadi lebih sehat dan mendukung proses pemulihan psikologisnya.
Lebih lanjut, saya mengajaknya untuk memusatkan perhatian pada hal-hal yang ada di depan mata: memanfaatkan fleksibilitas Universitas Terbuka (UT) untuk mengatur waktu belajar, merancang strategi kerja paruh waktu yang realistis, dan mengembangkan kekuatan personal seperti ketekunan, tanggung jawab, dan empati yang telah dimilikinya selama ini.
Kami juga membahas pentingnya tetap menyimpan impian—meski tidak berkuliah di universitas idamannya di jenjang sarjana, agar ia tetap bisa mengejar jenjang studi lain atau mengikuti program pembelajaran terbuka yang ditawarkan oleh universitas tersebut, sepanjang itu selaras dengan nilai hidupnya. Klien memegang teguh tujuannya melanjutkan pendidikan tinggi yaitu untuk memperbaiki masa depan dan memiliki kehidupan yang lebih baik.
Akhirnya, saya mengajak klien untuk memperkuat narasi pemberdayaan yang berakar pada makna hidup (Dimaggio et al., 2003), bahwa sepanjang kita memiliki iman, tidak ada hal yang mustahil di hadapan Allah SWT dan setiap kejadian, termasuk kegagalan, menyimpan hikmah yang mungkin belum terlihat saat ini.
Rezeki dari Allah tidak selalu datang dalam bentuk yang kita harapkan, tetapi bisa hadir dalam bentuk kesempatan belajar, relasi yang mendukung, atau kekuatan batin yang tumbuh dari masa sulit. Saya mengajak klien untuk merenungkan bahwa ia tetap memiliki kontrol diri untuk memilih, berusaha, dan mengubah arah hidupnya, misalnya dengan menilai apakah penggunaan sosial media masih dapat ditoleransi atau sudah mengarah pada penggunaan yang problematik (Pilatti et al., 2021). Dengan demikian, klien tidak hanya belajar menerima kenyataan, tetapi juga lebih berdaya membangun harapan dan arah baru yang lebih selaras dengan nilai-nilai yang ia miliki.
Berbicara dalam koridor kesehatan mental, pemahaman terhadap Qadha dan Qadar dapat menjadi sumber kekuatan psikologis dan ketenangan batin. Ketika seseorang mengalami tekanan, kegagalan, atau kehilangan, keyakinan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah SWT dan memiliki hikmah dibaliknya dapat membantu meredakan rasa cemas dan putus asa.
Prinsip Qadar mengajarkan bahwa meskipun manusia memiliki tanggung jawab untuk berusaha dan membuat pilihan, hasil akhir tetap berada dalam kuasa Allah. Hal ini mendorong sikap tawakal—yaitu menyerahkan hasil kepada Allah setelah berusaha sebaik mungkin—yang dapat mengurangi beban mental akibat perfeksionisme atau rasa bersalah yang berlebihan.
Di sisi lain, kesadaran akan Qadha membantu individu menerima kenyataan hidup dengan lebih lapang dada, membangun resiliensi, dan mengembangkan makna dari pengalaman sulit. Dengan demikian, integrasi nilai-nilai spiritual seperti Qadha dan Qadar dalam pendekatan kesehatan mental dapat memperkuat daya tahan emosional dan memperkaya proses pemulihan psikologis.
Oleh: Idei K. Swasti, M.Psi., Psikolog (Universitas Gadjah Mada, University of Leeds)
Referensi:
Alsunni, A. A., & Latif, R. (2021). Higher emotional investment in social media is related to anxiety and depression in university students. Journal of Taibah University Medical Sciences, 16(2), 247-252. https://doi.org/10.1016/j.jtumed.2020.11.004
Coyne, S. M., Rogers, A. A., Zurcher, J. D., Stockdale, L., & Booth, M. (2020). Does time spent using social media impact mental health?: An eight-year longitudinal study.
Computers in Human Behavior, 104, https://doi.org/10.1016/j.chb.2019.106160
Dimaggio, G., Salvatore, G., Azzara, C., & Catania, D. (2003). Rewriting self-narrative: The therapeutic process. Journal of Constructivist Psychology, 16(2), 155–181. https://doi.org/10.1080/10720530390117920
Ocampo-Rigor, M. T. W., Fernandez, K. T. G., & Tupaz, E. F. (2022). Narrative therapy
interventions for depressive symptomatology. Journal of Systemic Therapies, Volume 41(2), 54 – 67. https://doi.org/10.1521/jsyt.2022.41.2.54
O’Day, E. B., & Heimberg, R. G. (2021). Social media use, social anxiety, and loneliness: A
systematic review. Computers in Human Behavior Reports, 3, 100070. https://doi.org/10.1016/j.chbr.2021.100070
Pilatti, A., Bravo, A. J., Michelini, Y., Aguirre, P., & Pautassi, R. M. (2021). Self-control and
problematic use of social networking sites: Examining distress tolerance as a mediator among Argentinian college students. Addictive Behaviors Reports, 14, 100389. https://doi.org/10.1016/j.abrep.2021.100389
Yao, N., Chen, J., Huang, S., Montag, C., & Elhai, J. D. (2023). Depression and social anxiety
in relation to problematic TikTok use severity: The mediating role of boredom proneness and distress intolerance. Computers in Human Behavior, 145, 107751. https://doi.org/10.1016/j.chb.2023.107751
Website:
Sahabat IPK Indonesia: https://sahabat.ipkindonesia.or.id/
Pemikiran dan Refleksi Diaspora Nahdlatul Ulama (PR Di NU) merupakan ruang bagi gagasan, refleksi, dan kontribusi intelektual dari diaspora Nahdliyyin. Platform ini menyatukan wawasan yang berakar pada keahlian masing-masing para diaspora NU yang menawarkan perspektif tentang Islam yang berlandaskan Indonesia sebagai masyarakat yang dinamis, dan tentang nilai-nilai Nahdlatul Ulama yang tetap relevan di dunia saat ini. Fokus “PR Di NU” adalah isu-isu mendesak abad ke-21, terutama di bidang Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM). Tema-tema seperti etika Islam dalam kecerdasan buatan, keberlanjutan lingkungan, kesehatan digital, energi, dan transformasi sosial berfungsi sebagai gerbang untuk memperkaya percakapan global melalui lensa Ahlussunnah wal Jama’ah. (Editor Utama: Efri Arsyad Rizal)




