Mafhum kita terhadap perspektif bahwa hampir setiap hal di dunia ini bergradasi nilanya. Sebagaimana konsep wujud yang bergradasi, nilai sebuah buku pun -sebagai contoh-, akan bergradasi.
Maka, bagaimana mungkin kitab-kitab yang mengajarkan jalan-jalan langit, akan sama nilainya dengan buku-buku yang mengajarkan jalan-jalan bumi?
Apakah sama nilainya, buku yang mengenalkan hakikat realitas, buku yang menumbuhkembangkan akal dan hati, dengan buku yang sekadar memanjakan rasa?
Pertanyaan-pertanyaan di atas membawa kita menyadari bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak manusia yang mengenal kita atau seberapa banyak tokoh penting yang kita kenal.
Bukan pula tentang seberapa banyak tempat wisata yang kita kunjungi.
Bukan pula tentang seberapa banyak buku yang kita baca.
Kita perlu memandang bahwa hidup ini adalah tentang siapa yang kita kenal dan mengenal kita.
Tentu berbeda derajat orang-orang yang dispesialkan Allah -meski tak dikenal manusia-, dengan orang-orang yang hanya spesial di mata manusia. Bahkan dari siapa yang kita kenal dan kita cintai pun, akan menentukan siapa yang kelak membersamai kita di akhirat.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam,
المرأ مع من أحبب,
“Seseorang akan bersama dengan yang ia cintai di akhirat.”
Maka jangan sampai salah kepada siapa kita menautkan cinta.
Kita perlu senantiasa melihat bahwa hidup ini adalah juga tentang bagaimana hasrat kita untuk mengenal orang-orang yang setelah kematiannya dilimpahi nikmat-nikmat Allah.
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ,
“Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.”
Ini memantik bagaimana upaya kita agar mereka dapat mengenali kita. Agar kelak, mereka bisa menarik dan mensyafaati kita.
Kita juga perlu menelaah kembali tentang tempat-tempat yang kita kunjungi. Tentu berbeda gradasi nilainya, antara tempat-tempat yang kita kunjungi hanya untuk melengkapi rasa penasaran kita, memenuhi rasa senang kita, atau sekadar menggenapi bucket list, dengan tempat-tempat yang ‘hidup’ dan menghidupkan hati serta akal kita.
Tentu akan berbeda lagi gradasi nilainya jika kita merefleksi bagaimana laku serta kualitas tafakur dan tadabur kita di setiap tempat yang kita kunjungi. Ini pastinya berbeda jika dibandingkan dengan yang tempat-tempat yang kita kunjungi tanpa kesadaran atau mindfulness.
Kemudian, gradasi nilai pada buku apa saja yang kita baca. Sebab, deskripsi diri kita juga hasil pengejawantahan dari apa yang kita baca.
Dari apa yang telah dan sedang mengisi akal dan jiwa kita.
Sejatinya perlu kita menyelami lebih dalam.
Apalah artinya mengenal dan dikenal semua manusia, jika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tak kita kenali dan mengenali kita.
Maka perbanyaklah shalawat kepada beliau, mengkaji shirah kehidupannya, menelaah haditsnya, menghidupkan sunnahnya, dan meneladani akhlaqnya.
Apalah artinya jika ulama waratsatul anbiya, pewaris para Nabi tak kita kenal dan mereka pun tak mengenal kita.
Maka perbanyaklah mengirimkan fatihah kepada mereka, membaca manaqib dan qishash-nya, menelaah kitab-kitabnya, serta mengikuti jalan-jalannya.
Apalah artinya berkunjung ke setiap tempat wisata, bila kaki tak pernah melangkah ke majelis ilmu hakikat.
Apalah artinya bila cita-cita menjejakkan kaki di berbagai ikon dunia, tak membuat kita memprioritaskan menabung untuk berhaji dan berumrah.
Apalah artinya bila rasa senang berfoto di setiap tempat yang cantik dan indah, tak membuat kita rindu berziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, menziarahi orang-orang yang dispesialkan Allah, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.
Apalah artinya menguasai beragam buku, jika buku yang mengantarkan ‘jalan pulang’ tak pernah dikaji.
Wallahu a’lam. Ihdinash shiraathal mustaqiim.
Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq.
Asti Latifa Sofi, ustadzah, Southampton, UK; IG @astilatifasofi




