Denpasar, Indonesia – Komunitas Literasi Santri Bali, Sanubari Nuris adakan Webinar Internasional dengan tema Santri, Literasi, dan Indonesia sebagai acara puncak dan penutup Festival Literasi Santri pertama di Bali, Sabtu 4 Mei 2024 melalui kanal Zoom.
Acara ini dihadiri Verena Meyer (Dosen Leiden University Belanda), Fadhli Lukman dan M. Akmaluddin (Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Dito Alif Pratama (Founder Santri Mengglobal), M. Taufiq Maulana (Founder Aswaja Dewata), dan Efri Arsyad Rizal (Founder Sanubari Nuris).
Dalam sambutannya, Verena memberi apresiasi atas terselenggaranya Festival Literasi Santri Bali pertama sekaligus menyampaikan kekagumannya atas inisiatif Santri Bali dalam kesadaran literasi.
“Selamat atas suksesnya Festival Literasi Santri Bali yang diselenggarakan oleh Sanubari Nuris. Terima kasih sudah diundang dan saya sangat senang santri Bali tertarik dengan literasi. Acara ini akan memperkaya para peserta akan kesadaran pentingnya literasi bagi santri, pemuda dan peneliti. Harapannya festival ini hanya permulaan dan saya akan melihat lebih banyak lagi acara serupa.” Ucap Dosen dan Peneliti Islam di Asia Tenggara.
Dito Alif Pratama membawakan tema Scholarship Hunters: Peluang dan Tantangan. Ia menyebut bahwa santri harus berani belajar di luar negeri dan jangan minder serta jangan takut berpikir luas.
“Dengan memberikan kesempatan belajar tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri, Santri jangan takut berpikir secara terbuka dan jangan merasa minder dengan memampuan yang dimiliki. Hari ini kita bisa melihat banyak para santri sukses meraihnya.” Ucap Pendiri Santri Mengglobal ini.
M. Akmaluddin, Dosen Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga, turut menyampaikan hal yang sama. Seorang santri harus selalu belajar ilmu apapun selain ilmu agama. Bahkan, beliau menekankan bahwa santri harus memiliki cita-cita setinggi mungkin.

“Santri harus selalu belajar terkait ilmu kegamaaan dan ilmu lainnya. Seorang santri juga harus punya cita-cita setinggi mungkin, melalui cita-cita itu dia akan punya keyakinan dan melalui keyakinan itu dia akan meraih impian yang dicita-citakannya.” Kata Akmal yang juga pendiri studihadis.com.
Senada dengan Akmaluddin, Fadhli Lukman juga menambahkan bahwa selain kesadaran literasi yang menjadi sangat penting, pekerjaan seorang pembelajar justru masih panjang. Ia juga memotivasi agar para santri selalu membaca dan belajar bahasa.
“Semakin kita belajar, semakin kita tidak tahu apa-apa. Dunia ini sangat luas dan banyak celah yang bisa menjadi objek pembelajaran dan penelitian jika kita menyadarinya. Para santri harus selalu rajin membaca dan juga mempelajari banyak bahasa agar dapat menjadi media komunikasi dengan masyarakat global.” Ungkap Fadhli, Direktur Laboratorium Studi Al-Qur’an dan Hadis UIN Sunan Kalijaga.
M. Taufiq Maulana yang merupakan pembicara keempat juga turut memotivasi para santri agar mereka mengembangkan literasinya dan harapannya Sanubari Nuris akan mengadakan acara serupa di masa yang akan datang.

“Dulu saat di pesantren, saya selalu mencatat poin-poin penting saat ngaos. Kemudian saya minta koreksi kepada kyai saya untuk diberi feedback. Alhamdulillah dari kebiasaan tersebut saya dapat menerbitkan buku dan mendapatkan penghasilan. Bahkan, hasil dari penjualan buku tersebut biasa membiayai kuliah dan sebagai modal untuk menikahi istri saya. Maka dari itu, Sanubari Nuris harus sering-sering mengadakan kegiatan semacam ini agar santri bisa semakin produktif.” Kata Founder Aswaja Dewata ini.
KH. Fathur Rahim (Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ikhlas Jembrana Bali) berharap dengan Festival Literasi Santri Bali ini para santri dan peserta dapat memberi manfaat kepada santri dan masyarakat yang lain. Acara ini juga menjadi inspirasi bagi para santri dan pesantren lainnya di Bali.
“Semoga ilmu yang didapat bermanfaat barokah bisa diterapkan sehari-hari kepada santri dan masyarakat yang lain”. Tutup beliau yang juga merupakan Ketua STIT Jembrana Bali.(*)




